“Saya kira semua dibebaskan, itu di luar kewenangan Lembaga Sensor Film. Tapi, kita harus mengawasi, mencatat dan melaporkan,” kata Wakil Ketua LSF Noorca M. Massardi dalam sesi temu awak media di Jakarta, Rabu.
Ia menambahkan bahwa semua rumah produksi film boleh menyodorkan hasil produksi film termasuk pada momentum Ramadhan.
Baca juga: LSF ungkap tantangan yang dihadapi sektor film nasional
Pada momentum ini, kata dia, masyarakat lebih sensitif dan selektif memilih film yang akan ditonton.
“Masyarakat yang lebih sensitif terhadap hal-hal yang tidak boleh ditayangkan di bulan Ramadhan. Saya kira lembaga penyiaran televisi dan juga LSF juga menyadari itu,” katanya lagi.
Pada kesempatan yang sama, Ketua LSF Naswardi meyakini bahwa momentum libur pasca bulan Ramadhan merupakan momentum terbaik untuk menonton film nasional.
Baca juga: LSF telah terbitkan 36.926 surat lulus sensor hingga November 2025
Karenanya, ia menyerukan Gabungan Pengusaha Bioskop di seluruh Indonesia dan rumah produksi mampu memanfaatkan momentum ini dengan baik dengan menghadirkan film dengan berbagai klasifikasi usia.
"Artinya kalau penonton ingin nonton bareng anaknya itu ada alternatif SU, kalau remaja ingin nonton ada film dengan klasifikasi 13, atau kalau dewasa aja ada film 17 atau dewasa 21 gitu. Jadi jangan hanya terfokus kepada satu klasifikasi. Tetapi semua keinginan penonton yang ingin nonton bareng keluarga di bulan Ramadhan ada alternatif juga untuk film-film semua umur," tutup Naswardi.
Baca juga: LSF luncurkan maskot "Mama Culla" dukung literasi sensor mandiri
Sebelumnya, Kementerian Kebudayaan mencatat penonton film Tanah Air mencapai 80,270 juta penonton, yang menurut Menteri Kebudayaan Fadli Zon sebagai pertanda bahwa film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri.
"Tahun lalu juga sekitar itu tapi di bawahnya sedikit, ya. Jadi, paling tidak penonton Indonesia stabil ini menunjukkan film Indonesia sudah menjadi tuan rumah di negeri sendiri,” kata dia dalam taklimat media “Refleksi 2025, Kebijakan 2026” di Jakarta, Kamis (8/12).
Sejumlah film Indonesia juga mencatat prestasi di berbagai festival internasional, sementara film animasi nasional mencetak rekor penonton tertinggi sepanjang sejarah perfilman Indonesia. Film "Pangku" menorehkan prestasi pada ajang Busan International Film Festival, sementara animasi "Jumbo" menjadi film terlaris di dalam negeri tahun lalu.
Baca juga: LSF berkomitmen hadirkan literasi tontonan di berbagai media
Baca juga: Menbud tekankan pentingnya budaya sensor mandiri bagi penonton film
Pewarta: Sinta Ambarwati
Editor: Siti Zulaikha
Copyright © ANTARA 2026