"Sampai saat ini ketegangan masih terjadi di daerah itu, semoga cepat membaik,"Kupang (ANTARA) - Bhabinkamtibmas Polres Manggarai Aipda Arladius Modestus Arno mengisahkan dirinya berlutut dengan tangan memohon kepada dua kelompok warga, yakni dari Gendang Kaca dan Gendang Bung Leko yang bertikai di jalan Trans Flores, Kabupaten Manggarai, NTT pada Selasa (16/3) kemarin.
"Situasi saat itu sudah semakin panas, kelompok yang satu dengan yang lain tidak mau sepakat untuk diselesaikan secara damai," katanya saat dihubungi ANTARA dari Kupang, Rabu.
Rekan-rekannya dari kepolisian juga, ujar dia, sudah mencoba dengan segala cara agar bentrokan tidak berlanjut hingga menimbulkan korban jiwa.
Aipda Arno kemudian dengan spontan berlutut sambil menangis, memohon kepada kedua kelompok tersebut agar tidak bertikai.
Menurut Arno kedua kelompok yang bertikai tersebut adalah warga binaannya, sebab kedua daerah tersebut adalah daerah dia bertugas.
"Bagi saya mereka itu adalah saudara-saudara saya, sering kalau bertugas, mereka sering ajak makan di rumah mereka, cerita-cerita dan kumpul-kumpul bersama," ujar dia.
Karena itu melihat peristiwa pertikaian tersebut, dia merasa kecewa dan sedih. Dia pun dengan spontan memohon agar pertikaian itu tidak berlanjut.
Tindakannya membuat konflik antar pemuda di daerah itu pun terhenti. Namun Arno menilai konflik yang terhenti itu bukan karena dirinya tetapi karena ada anggota polisi lain yang ikut membantu.
"Sampai saat ini ketegangan masih terjadi di daerah itu, semoga cepat membaik," tambah dia.
Kabid Polda NTT, Kombes Pol. Henry Novika Chandra,mengatakan Polri selalu mengedepankan pendekatan persuasif dan humanis dalam menangani potensi konflik di masyarakat.
Menurutnya, kehadiran aparat kepolisian di lokasi kejadian semata-mata untuk menjaga keamanan dan melindungi seluruh masyarakat tanpa berpihak kepada kelompok mana pun.
“Dalam situasi yang berpotensi konflik, anggota kami di lapangan selalu mengedepankan pendekatan dialog dan kemanusiaan. Tujuannya adalah mencegah terjadinya kekerasan dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas utama,” ujar dia.
Ia juga menambahkan, pihak kepolisian telah memberikan imbauan kepada seluruh warga agar tidak mudah terprovokasi oleh isu-isu yang dapat memicu konflik serta mengajak semua pihak untuk menjaga persaudaraan dan kedamaian di wilayah Manggarai.
Peristiwa di Desa Bula menjadi pengingat bahwa di balik seragam yang dikenakan, polisi tidak hanya hadir sebagai aparat penegak hukum, tetapi juga sebagai penjaga kedamaian yang berupaya meredam konflik dengan hati nurani.
Baca juga: Penyelundup 1,7 ton minyak tanah dari NTT terancam 6 tahun penjara
Baca juga: Dirresnarkoba Polda NTT dinonaktifkan usai diduga terlibat pemerasan
Baca juga: Polda Jabar dampingi KDM jemput 12 wanita diduga korban TPPO di NTT
Pewarta: Kornelis Kaha
Editor: Agus Setiawan
Copyright © ANTARA 2026