Keberadaan pusat-pusat perbelanjaan tersebut membuat kawasan Masjid Raya Bandung tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup, tempat warga berkumpul, berbelanja, sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga
Bandung (ANTARA) - Menjelang Idul Fitri, kawasan Masjid Agung Bandung atau yang sering disebut Masjid Raya Bandung dan sekitarnya dipadati pengunjung yang memanfaatkan waktu libur untuk berjalan-jalan bersama keluarga, berbelanja kebutuhan Lebaran, hingga sekadar menikmati suasana pusat kota.

Sejak pagi hingga menjelang sore, kawasan di sekitar masjid terlihat ramai oleh aktivitas warga. Sebagian pengunjung duduk santai di selasar masjid, sementara yang lain berjalan menuju pusat-pusat perbelanjaan di sekitar Alun-alun Bandung.

Beberapa keluarga tampak mengajak anak-anak mereka bermain di sekitar kawasan tersebut. Suasana kawasan itu biasanya semakin ramai ketika waktu berbuka puasa semakin dekat.

Salah satunya adalah Asep Tisna, warga Dayeuhkolot, Kabupaten Bandung, yang datang bersama keluarganya untuk menghabiskan waktu libur menjelang Lebaran.

“Ngajak jalan-jalan anak-anak sama istri. Di sini kan ramai dan banyak tempat buat anak-anak main,” kata Asep kepada ANTARA pada Minggu (15/3).

Ia mengatakan perjalanan dari rumahnya menuju pusat kota Bandung tidak memakan waktu lama. Dengan menggunakan sepeda motor, ia hanya membutuhkan sekitar setengah jam untuk tiba di kawasan tersebut apabila kondisi lalu lintas lancar.

Selain berjalan-jalan, sebagian pengunjung juga memanfaatkan kesempatan tersebut untuk berbelanja kebutuhan menjelang hari raya.

Reni Putri, mahasiswi dari Kiaracondong, mengaku datang bersama temannya untuk mencari pakaian Lebaran di salah satu pusat perbelanjaan yang berada tidak jauh dari masjid.

“Belanja baju Lebaran di King’s. Biasanya beli online, tapi sekarang coba langsung ke toko karena sudah mepet juga waktunya,” kata Reni.

Ia mengatakan dirinya baru mendapatkan sebagian kebutuhan Lebaran karena banyaknya pilihan pakaian yang dijual di pusat perbelanjaan tersebut.

“Tadi baru dapat baju sama kerudung. Banyak pilihannya jadi agak pusing juga milihnya,” ujarnya.

Menurut dia, kawasan tersebut menjadi salah satu tujuan warga untuk berbelanja karena pilihan produknya cukup banyak dengan harga yang relatif terjangkau.

Selain King’s, kawasan ini juga dikelilingi sejumlah pusat perbelanjaan lain seperti Plaza Parahyangan di Jalan Dalem Kaum yang juga ramai dikunjungi warga menjelang Lebaran.

Keberadaan pusat-pusat perbelanjaan tersebut membuat kawasan Masjid Raya Bandung tidak hanya menjadi tempat ibadah, tetapi juga menjadi ruang publik yang hidup, tempat warga berkumpul, berbelanja, sekaligus menghabiskan waktu bersama keluarga.

Pedagang raup berkah

Sejumlah orang terlihat melintasi Masjid Agung Bandung pada Minggu (15/3/2026). (ANTARA/Farika Nur Khotimah)
Ramainya pengunjung menjelang Lebaran juga membawa berkah bagi para pedagang yang berjualan di sekitar kawasan tersebut.

Seorang pedagang, Sartia Dewi, mengaku telah berjualan di sekitar kawasan Masjid Raya Bandung selama sekitar 10 tahun.

Kepada ANTARA, ia mengatakan jumlah pengunjung biasanya meningkat signifikan ketika mendekati Hari Raya Idul Fitri.

“Kalau menjelang Lebaran seperti ini pengunjung pasti bertambah, bisa sampai dua kali lipat dibanding hari biasa,” kata Sartia.

Ia mengatakan pengunjung yang datang tidak hanya berasal dari Kota Bandung, tetapi juga dari berbagai daerah lain seperti Jakarta, Karawang, hingga Cikarang.

Namun dalam beberapa hari terakhir, kata Sartia, area rumput Alun-alun Bandung tidak dibuka untuk umum sehingga pengunjung lebih banyak berkumpul di sekitar selasar masjid.

“Sekarang tamannya ditutup, jadi pengunjung lebih banyak di sekitar sini,” ujarnya.

Meski demikian, kondisi tersebut justru membuat kawasan di sekitar masjid tetap ramai oleh aktivitas masyarakat.

Selain berjalan-jalan dan berbelanja, sebagian pengunjung juga memanfaatkan waktu untuk beribadah di Masjid Raya Bandung. Banyak pula yang duduk di selasar masjid.

Selama bulan Ramadhan, kawasan tersebut juga kerap menjadi tempat pembagian takjil gratis dari para donatur bagi masyarakat yang datang menjelang waktu berbuka.

Menjelang waktu berbuka, suasana di sekitar masjid biasanya semakin ramai. Warga terlihat duduk di selasar masjid, sementara sebagian lainnya mengantre untuk mendapatkan takjil yang dibagikan secara gratis.

Ikon kota sejak 1812

Masjid Raya Bandung dikenal sebagai salah satu ikon pusat Kota Bandung. Berdasarkan informasi yang disampaikan Humas Kota Bandung melalui media sosial resminya, masjid tersebut dibangun pada 1812 bersamaan dengan pemindahan ibu kota Kabupaten Bandung dari Karapyak ke kawasan yang kini menjadi pusat kota.

Sejak awal, kawasan masjid dan alun-alun dirancang sebagai satu kesatuan yang menjadi pusat kegiatan keagamaan, pemerintahan, sekaligus kehidupan sosial masyarakat.

Bangunan masjid saat ini memiliki ciri khas berupa dua menara kembar yang menjulang tinggi serta kubah besar yang menjadi penanda kawasan pusat kota.

Di bagian luar masjid terdapat kawasan Alun-Alun Bandung yang menjadi ruang terbuka bagi masyarakat. Tempat tersebut kerap dimanfaatkan warga untuk berbagai aktivitas, mulai dari berjalan-jalan hingga berkumpul bersama keluarga.

Lebih dari dua abad berdiri, Masjid Raya Bandung tidak hanya berfungsi sebagai tempat ibadah, tetapi juga menjadi salah satu ruang publik yang paling ramai dikunjungi warga, terutama pada momen Ramadhan hingga menjelang Idul Fitri.

Di tengah kesibukan warga menjelang Lebaran, kawasan Masjid Raya Bandung pun tetap menjadi ruang pertemuan bagi berbagai aktivitas masyarakat, dari keluarga yang berjalan-jalan, anak muda yang berbelanja, hingga pedagang yang mencari rezeki dari ramainya pengunjung.

 

Editor: Sapto Heru Purnomojoyo
Copyright © ANTARA 2026