Fenomena PMKS musiman ini bukan sekadar masalah yang lewat bersama Ramadhan. Ia adalah panggilan untuk memperkuat jaring sosial, mendesain ulang kebijakan kesejahteraan, dan menumbuhkan rasa cinta kepada sesama dalam bingkai Negara Kesatuan RepublikMataram (ANTARA) - Senja begitu hangat di Jalan Langko, Kota Mataram, Nusa Tenggara Barat (NTB). Lalu lintas bergerak pelan, dipadati warga yang pulang kerja atau menyiapkan kebutuhan menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Lampu merah berubah jingga, deru klakson bersahutan. Namun, ada pemandangan yang menarik perhatian, yakni sosok manusia silver yang tetap berdiri tegak, tubuh penuh cat metalik, menodongkan kotak di hadapan pengendara.
Di trotoar, seorang ibu dengan anak kecil duduk terpaku, menunggu belas kasihan. Tak jauh dari sana, anak-anak remaja berjalan bolak‑balik, berharap belas bantuan.
Fenomena ini berulang setiap kali bulan puasa memasuki fase akhir. Munculnya kelompok pengemis, manusia silver, anak jalanan, dan gelandangan menjadi bagian dari dinamika sosial kota ini.
Pemerintah Kota Mataram telah meningkatkan pengawasan, bahkan memperketat patroli PMKS (Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial) menjelang Lebaran. Namun, di balik upaya penertiban, ada persoalan struktural yang lebih dalam dan mendesak untuk ditelaah.
Fenomena PMKS musiman bukan semata gambaran moral masyarakat yang menurun, maupun sekadar persoalan ketertiban. Ini adalah sebuah cermin dari kondisi sosial‑ekonomi masyarakat yang belum terselesaikan, terutama ketika permintaan kerja layak dan akses terhadap kesejahteraan masih terbatas.
Baca juga: MUI minta pemerintah ambil langkah preventif hadapi pengemis musiman
PMKS meningkat
Pemerintah Kota Mataram mencatat kecenderungan peningkatan aktivitas anak jalanan, gelandangan, dan pengemis saat Ramadhan mendekati Idul Fitri. Dinas Sosial bahkan menemukan adanya indikasi mobilisasi orang dari luar daerah yang datang ke Mataram untuk “berkegiatan” di titik‑titik keramaian guna mendapatkan sedekah.
Patroli satgas sosial juga dilaporkan kian intensif. Jam kerja diperpanjang dari pukul 07.00 hingga 05.00 WITA. Beberapa lokasi seperti Jalan Udayana, Panjitilar, Pendidikan, dan Langko menjadi titik berkumpul kegiatan PMKS.
Fenomena ini bukan hal baru. Sejak tahun lalu, aktivitas PMKS sejenis meningkat signifikan saat momentum tertentu. Namun keunikannya adalah sifatnya yang musiman dan terkadang melibatkan pelaku dari luar wilayah, menjadikannya persoalan lintas wilayah yang kompleks.
Bahwa fenomena ini muncul bukan tanpa sebab. Di satu sisi, Ramadhan dan jelang Lebaran adalah tradisi berbagi. Nilai gotong‑royong dan sedekah menjadi nanar dalam budaya masyarakat.
Di sisi lain, kondisi ekonomi yang belum pulih pascapandemi, rendahnya upah layak, serta terbatasnya lapangan kerja formal mendorong sebagian orang mencari “cara cepat” untuk mendapatkan uang receh di jalan.
Dari sudut pandang ekonomi perilaku, tindakan ini menjadi strategi bertahan hidup yang keliru namun pragmatis.
Baca juga: Pengemis musiman jelang Idul Fitri meningkat di Mataram
Copyright © ANTARA 2026