"Potensi ini (ZIS) akan kita kolaborasikan terus melalui data tunggal yang akurat sehingga ketika kita mengatasi kemiskinan, mengatasi keterbelakangan, itu tepat sasaran," kata Muhaimin Iskandar di Jakarta, Jumat.
Menurut dia, dengan penyaluran yang tepat sasaran akan meningkatkan kepercayaan muzakki atau pemberi zakat.
"Ketika tepat sasaran, orang percaya untuk menyumbang. Ketika orang percaya menyumbang, maka gotong royong semakin rasional. Gotong royong semakin baik dan efektif dalam mengatasi kemiskinan," kata Muhaimin Iskandar.
Menurut dia, potensi sosial dari zakat, infak, dan sedekah sangat besar dan harus dikelola dengan baik agar bisa membantu kehidupan masyarakat miskin dan miskin ekstrem, dan bisa memberdayakan mereka.
Baca juga: Menko PM harap Ketua Baznas baru lebih produktif kelola ZIS
"Setidaknya ada 23 juta kaum yang belum sejahtera, masih dalam posisi kesulitan ekonomi. Itu tanggung jawab kita dan itu menjadi bagian dari 8,25 persen penduduk bangsa kita masih mengalami kemiskinan, dan 0,85 persen masih ada dalam kemiskinan ekstrem," kata Muhaimin Iskandar.
Ia pun mendorong penyaluran zakat, infak, dan sedekah bisa membuat masyarakat miskin naik kelas menjadi berdaya dan mandiri.
"Kita memastikan zakat, infak, dan sedekah tidak hanya berhenti di saat Ramadhan dan berhenti sebagai karitatif, tetapi kita bergerak berdasarkan DTSEN. Kita dorong seluruh masyarakat kita naik kelas untuk berdaya dan mandiri. Kita peduli kepada yang miskin, sekaligus kita dorong mereka untuk berdaya," katanya.
Pemerintah menargetkan pengumpulan zakat, infak, sedekah sebesar Rp44 triliun pada 2026.
Baca juga: Menko Muhaimin dorong penyaluran ZIS jadikan masyarakat miskin berdaya
"Sebesar Rp44 triliun," kata Muhaimin Iskandar.
Pewarta: Anita Permata Dewi
Editor: Bambang Sutopo Hadi
Copyright © ANTARA 2026