Jakarta (ANTARA) - Setiap Ramadhan, lebih dari 200 juta umat Islam di Indonesia menjalankan puasa dari fajar, hingga magrib.

Aktivitas tetap berjalan seperti biasa: bekerja, kuliah, sekolah, hingga mobilitas yang padat menjelang berbuka. Di balik rutinitas itu, tubuh kita sedang melakukan proses biologis yang luar biasa.

Puasa bukan hanya ibadah spiritual, tetapi juga proses adaptasi alami tubuh yang sudah menjadi bagian dari sistem metabolisme manusia. Ilmu biologi membantu kita memahami bagaimana tubuh merespons puasa dan mengapa praktik ini, jika dijalankan dengan baik, dapat mendukung keseimbangan hidup.

Lalu bagaimana proses itu terjadi?

Fase Pertama: Tubuh menyimpan energi (glikogenesis). Setelah sahur atau berbuka, tubuh berada dalam kondisi cukup energi. Glukosa dari makanan masuk ke dalam darah. Sebagian digunakan langsung sebagai energi, dan sebagian lagi disimpan dalam bentuk glikogen melalui proses yang disebut glikogenesis.

Glikogen ini disimpan, terutama di hati dan otot, sebagai cadangan energi jangka pendek. Menurut Mackieh dkk. (2024), proses ini dikendalikan oleh hormon insulin dan berfungsi menjaga kadar gula darah tetap stabil. Pada tahap ini, tubuh seperti sedang "menabung energi" untuk digunakan nanti, ketika tidak ada asupan makanan. Hal ini menunjukkan bahwa tubuh manusia memang dirancang untuk menghadapi periode tanpa makan.

Fase Kedua: Tubuh menggunakan cadangan (glikogenolisis). Ketika puasa dimulai dan tidak ada lagi asupan kalori, tubuh tidak langsung kekurangan energi. Tubuh akan menggunakan cadangan yang telah disimpan sebelumnya melalui proses glikogenolisis, yaitu pemecahan glikogen menjadi glukosa.

Fink, Tanaka, dan Horie (2024) menjelaskan bahwa proses ini terjadi pada 8–12 jam pertama puasa. Hormon glukagon meningkat untuk merangsang pelepasan glukosa dari hati. Pada fase ini, tubuh masih dalam kondisi stabil karena menggunakan energi yang sudah tersedia. Itulah sebabnya puasa harian, seperti Ramadhan, umumnya aman bagi orang yang sehat.

Hanya saja, cadangan glikogen ini terbatas. Setelah sekitar 12–24 jam, tubuh perlu menggunakan cara lain untuk menghasilkan energi.

Fase Ketiga: Tubuh beradaptasi (glukoneogenesis dan ketosis). Ketika cadangan mulai menipis, tubuh memasuki fase adaptasi. Proses ini disebut glukoneogenesis, yaitu pembentukan glukosa baru dari sumber selain karbohidrat, seperti asam amino dan hasil pemecahan lemak.

Rebello dkk. (2025) menjelaskan bahwa pada fase ini tubuh juga meningkatkan pembakaran lemak dan menghasilkan badan keton. Keton ini dapat digunakan sebagai sumber energi alternatif, terutama oleh otak. Kemampuan tubuh untuk berpindah dari satu sumber energi ke sumber lain disebut fleksibilitas metabolik.

Artinya, puasa bukanlah kondisi darurat bagi tubuh, melainkan bagian dari mekanisme alami untuk bertahan hidup. Dalam puasa Ramadhan, proses ini terjadi setiap hari dan kembali normal saat berbuka.

Selain perubahan dalam penggunaan energi, puasa juga berkaitan dengan proses autophagy, yaitu mekanisme pembersihan sel dari bagian yang rusak. Proses ini membantu menjaga kualitas sel dan diduga berperan dalam mencegah penyakit degeneratif.

Secara sederhana, puasa memberi kesempatan bagi tubuh untuk melakukan "perawatan internal". Saat asupan energi dibatasi, tubuh lebih fokus pada perbaikan dan efisiensi sistemnya.

Puasa juga memengaruhi keseimbangan hormon. Saat kadar gula darah menurun, insulin ikut menurun. Dalam jangka panjang, hal ini dapat meningkatkan sensitivitas insulin. Hormon pertumbuhan juga cenderung meningkat, membantu mempertahankan massa otot dan mendukung pembakaran lemak.

Fazeli dan Steinhauser (2025) menjelaskan bahwa pembatasan makan yang terkontrol dapat berdampak positif pada kesehatan metabolik dan berpotensi menurunkan risiko diabetes tipe 2 serta penyakit jantung, terutama jika disertai pola makan yang seimbang saat tidak berpuasa.

Dalam konteks masyarakat Indonesia yang menghadapi peningkatan kasus obesitas dan gangguan metabolik, pemahaman ilmiah tentang puasa menjadi semakin penting.

Ramadhan dapat menjadi momentum untuk memperbaiki pola konsumsi dan gaya hidup.

Menariknya, tiga proses utama dalam puasa—glikogenesis (menyimpan), glikogenolisis (menggunakan cadangan), dan glukoneogenesis (menciptakan sumber baru)— mencerminkan prinsip keseimbangan hidup. Ada waktu untuk menyimpan, ada waktu untuk menggunakan, dan ada waktu untuk beradaptasi.

Dalam kehidupan modern yang serba cepat dan instan, kita sering berada dalam pola konsumsi tanpa henti, baik makanan, informasi, maupun tekanan pekerjaan. Puasa menghadirkan jeda. Jeda ini tidak hanya biologis, tetapi juga psikologis.

Berlatih menahan diri membantu meningkatkan disiplin, kontrol diri, dan kesadaran akan kebutuhan yang sebenarnya. Sejumlah penelitian menunjukkan bahwa pengendalian diri yang dilatih melalui puasa berkaitan dengan stabilitas emosi dan kemampuan mengelola stres dengan lebih baik. Dengan kata lain, keseimbangan metabolik berjalan seiring dengan keseimbangan mental.

Walaupun banyak manfaatnya, puasa tidak selalu cocok untuk semua orang. Penderita penyakit kronis, ibu hamil, atau lansia dengan kondisi kesehatan tertentu perlu berkonsultasi dengan tenaga medis. Selain itu, kualitas sahur dan berbuka sangat menentukan. Makan berlebihan saat berbuka justru dapat mengganggu keseimbangan metabolik yang telah terbentuk selama puasa.

Ramadhan bukan hanya peristiwa keagamaan, tetapi juga fenomena biologis dan sosial yang dialami jutaan orang secara bersamaan. Dari sudut pandang biologi, puasa menunjukkan bahwa tubuh manusia memiliki kemampuan adaptasi yang luar biasa.

Dari sudut pandang kehidupan, puasa mengajarkan ritme: kapan menahan, kapan memenuhi, dan kapan menyeimbangkan.

Ilmu pengetahuan tidak menggantikan makna spiritual puasa, tetapi memperkaya pemahaman kita tentang hikmah di baliknya. Ketika proses biologis, seperti glikogenesis, glikogenolisis, dan glukoneogenesis berjalan selaras, tubuh berada dalam kondisi stabil.

Ketika disiplin dan kesadaran diri tumbuh, hidup pun menjadi lebih seimbang. Ramadhan pada akhirnya adalah latihan menyeluruh—bagi tubuh, pikiran, dan cara kita menjalani kehidupan secara lebih harmonis. Wallahu a’lam bishowab.

 

*) Misbakhul Munir, S.Si., M.Kes, dosen Biologi UINSA

Copyright © ANTARA 2026