Ketegasan Saudi dorong penyelenggaraan haji lebih baik

Jumat, 25 Oktober 2013 18:06 WIB | Dilihat 5463 Kali
Edy Supriatna Sjafei
Jamaah Muslim mengelilingi Kabah di Masjidil Haram pada puncak pelaksanaan ibadah haji di Makkah, Arab Saudi, Kamis (17/10). (ANTARA FOTO/REUTERS/Ibraheem Abu Mustafa )
Jakarta (ANTARA News) - Ketegasan Kerajaan Arab Saudi dalam mengatur seluruh Jemaah dari seluruh dunia mendorong pelaksanaan penyelenggaraan ibadah haji 1434 H atau 2013 jauh lebih baik dibanding tahun sebelumnya.

Indikator bahwa penyelenggaraan itu lebih baik dapat dilihat dari makin berkurangnya haji non-kuota, ketersediaan pendukung wukuf di Arafah dan Mina, termasuk lokasi thawaf yang sebelumnya dikhawatirkan bermasalah.

Menteri Agama Suryadharma Ali pun, setibanya di Tanah Air pada Kamis malam, di Bandara Soekarno-Hatta, Jakarta, mengakui bahwa hal itu tidak saja dirasakan oleh Jemaah haji Indonesia tetapi juga seluruh dunia. Bisa jadi, tempat thawaf yang semula kecil ternyata untuk lantai satu dan dua di Masjidil Haram bisa digunakan sehingga Jemaah pun terasa nyaman.

Menteri Agama memberi apresiasi kepada Pemerintah Kerajaan Arab Saudi dalam menata penyelenggaraan ibadah haji pada tahun ini lebih baik. Dan, Indonesia sebagai pengirim Jemaah terbesar setiap tahun, merasa terbantu.

Terlebih Jemaah haji Indonesia kebanyakan berusia lanjut (Lansia) sehingga tidak merasa sulit ketika thawaf di Masjidil Haram lantaran diberi tempat khusus bersama Jemaah Lansia dari sejumlah negara lainnya. Fasilitas toilet pun di Arafah dan tenda di Mina kini semakin baik. Jumlah toilet ditambah.

"Semua itu menunjukkan adanya perbaikan dari sisi infrastruktur. Belum lagi hal lain, seperti transportasi menggunakan bus layak dan nyaman," ujarnya.

Kendati dari sisi penyelenggaraan baik, ia pun tetap menaruh perhatian kepada pentingnya upaya perbaikan ke depan. Baik bukan berarti tanpa kekurangan. Kekurangan yang perlu diwaspadai ke depan adalah pemberian makanan dari perusahaan katering. Penyampaian harus lebih tepat kepada Jemaah, tetapi dari sisi lain pemerintah setempat harus mewaspadai bahan baku yang akan dioleh para perusahaan catering bersangkutan.

Jumlah Jemaah yang dilayani demikian banyak. Distribusi bahan mentah untuk dioleh butuh waktu dan prosesnya pun membutuhkan ketelitian dan kecermatan. Hal ini penting, karena makanan dalam kotak membutuhkan ketepatan penyampaian. Belum lagi dari sisi transportasi sayuran dan beras. Harus ada koordinasi secara komprehensif dan integral.

Perlu perbaikan

Hal lain yang perlu mendapat perhatian untuk penyelenggaraan haji tahun depan, menurut pandangan Menteri Agama adalah soal ketepatan waktu (on time performance atau OTP) pengangkutan udara Jemaah haji. Pada musim haji 1434 H pengangkutan udara sampai dengan pemberangkatan ke Saudi selesai adalah 93,7 persen (Garuda) dan OTP Saudi 90,7 persen. Ini menurun jika dibanding tahun lalu. Garuda 94 persen dan Saudi 95 persen. Hal ini perlu menjadi perhatian ke depan.

Jumlah Jemaah haji Indonesia yang bertolak ke Saudi pada tahun ini 170.032 orang; terdiri dari 13.566 orang haji khusus, dan 154.546 orang haji regular ditambah petugas sebanyak 1.920 orang.

Pemulangan berlangsung hingga 20 Nopember 2013. Jumlah Jemaah yang wafat sampai Kamis, 24 Oktober 2013, tercatat 149 orang. Menurun dibanding pada periode yang sama pada 2012 lalu, yaitu 282 orang. Sedang Jemaah yang dirawat di RS Saudi sebanyak 132 orang.

Menteri Agama sekembali ke Tanah Air menjelaskan prihal pertemuannya dengan beberapa pejabat OKI, pejabat misi haji Pakistan dan Turki. Ada keinginan beberapa negara Organisasi Konferensi Islam (OKI) agar kuota haji yang diatur kembali mengingat pertambahan penduduk di sejumlah negara Islam kini telah mengalami perubahan.

Hal yang menggembirakan adalah pertemuan dengan Sekjen Islamic Develompment Bank (IDB). Pada pertemuan tersebut IDB tetap berkomitmen mendukung perguruan tinggi Islam, seperti IAIN di berbagai daerah. Selama ini bank Islam tersebut telah menyalurkan bantuan sebesar Rp1,4 triliun.

Dibahas pula tentang rencana pengaturan dam bagi Jemaah haji. IDB ke depan akan dijadikan sebagai pengelola/pengumpul hasil dam dari Jemaah haji Indonesia. IDB juga dipercaya mengelola uang dan tersebut guna dibelikan hewan kurban , yang kemudian diharapkan ke depan dagingnya dapat didistribusikan kepada warga miskin di berbagai belahan dunia.

Turki dan Pakistan berkeinginan kuat menjalin kerja sama untuk penyelenggaraan haji dengan Indonesia. Karena itu pula, pemerintah Saudi mendukung agar dari tahun ke tahun penyelenggaraan ibadah haji mengalami kemajuan dalam melayani tamu Allah.
(E001/Z003)