Realitas dan mitos ikut warnai ibadah haji

Senin, 21 Oktober 2013 18:11 WIB | Dilihat 19572 Kali
Edy Supriatna Sjafei
Sejumlah Jemaah Haji Kloter Pertama Debarkasi Adi Sumarmo Solo, melakukan sujud syukur setibanya di Bandara Adi Sumarmo, Solo, Jateng, Senin (21/10). Sebanyak 374 jemaah asal Tegal itu kembali ke tanah air setelah mejalani ibadah haji di tanah suci. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)
Jakarta (ANTARA News) - Musim haji 1434 H atau 2013 M sudah berakhir. Kini para tamu Allah yang baru menyelesaikan ritual ibadah rukun kelima itu secara bersangsur-angsur segera kembali ke Tanah Air dengan segala pengharapan; yaitu salah satunya memperoleh haji mabrur dan mampu meningkat kesalehan sosialnya.

Esensi ibadah haji memang wukuf di Arafah. Tidak melaksanakan wukuf di kawasan itu maka yang bersangkutan tidak sah ibadah hajinya. Ibadah ini tak bisa diwakilkan oleh siapa pun, sekalipun orang bersangkutan berkecukupan untuk membayar kepada orang lain. Saking pentingnya wukuf di Arafah bagi seseorang yang menunaikan ibadah itu, maka orang sakit pun disafariwukufkan.

Yang menarik dari wukuf atau berdiam diri bagi calon Jemaah haji di Arafah pada waktu yang sudah ditentukan, yaitu 9 Zulhijah, adalah cerita para tamu Allah itu sekembalinya di Tanah Air. Bahkan ada di antara mereka bercerita hingga melebar pada saat pelaksanaan ritual lainnya; seperti ketika melaksanakan jumroh, berdoa di Jabal Rahmah dan saat ritual tawaf dan sai di Masjidil Haram.

Hal itu biasa setiap Jemaah kembali dari menunaikan ibadah haji. Mereka punya pengalaman spiritual masing-masing, kata Kepala Kantor Wilayah Kementerian Agama Sumatera Utara (Sumut) Abdul Rahim ketika berbincang-bincang seputar haji bersama Arif Nurrawi (Sekretaris Panitia Penyelenggara Ibadah Haji/PPIH Pusat), dan Kasi Haji Kemenag Sumut Hasful Huznain.

Cerita seorang ibu sakit-sakitan ketika di Tanah Air, tetapi saat berada di Arafah badannya terlihat segar dan kuat. Yang bersangkutan rajin melaksanakan zikir ketika wukuf, tetapi ada orang muda belia justru untuk melaksanakan wukuf saja harus ikut rombongan safari wukuf. Dia hanya berdiam diri sejenak di Arafah dengan mobil bersama Jemaah sakit lainnya.

Ini bukan cerita, tapi fakta. Ada seorang terlihat kekar, gagah dan ganteng. Tatkala naik taksi di Mekkah pria tersebut marah- marah kepada supir karena tak bisa mengantarkan ke kawasan Halim Perdanakusuma, Jakarta .

Beruntung supir setempat tahu lokasi kantor Daerah Kerja (Daker) Mekkah. Sang sopir lalu membawa penumpang yang minta diantar ke Halim tersebut ke kantor Daker tersebut. Selanjutnya meminta bantuan petugas Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) untuk mengatasi penumpang yang tak henti-hentinya sepanjang jalan marah- marah karena supir tak tahu Halim.

Belakangan baru diketahui penumpang taksi yang juga calon Jemaah haji dari Jakarta itu sedang mengalami stres atau sakit jiwa. Sepintas dari sisi penampilan orang tersebut perlente, terpelajar dan sehat karena ketika diajak berdialog dengan petugas bisa "nyambung". Tapi, saat yang bersangkutan menyebut supir di Mekkah bodoh dan tak tahu dimana Halim, petugas PPIH berkesimpulan orang tersebut sedang sakit jiwa.

Siapa yang mau membayangkan naik taksi dari Mekkah ke Halim.

"Ngimpi, kalee," kata seorang petugas PPIH Arab Saudi sambil melempar tawa.

Ada lagi cerita calon Jemaah haji meninggal setelah mendaki bukit Jabal Nur. Katanya, kepala orang bersangkutan sebelum meninggal dipatuk burung gagak. Di Mekkah, khususnya di beberapa kawasan bukit batu, memamg banyak burung gagak hitam selain merpati.

Meninggalnya orang tersebut menjadi berita dari mulut ke mulut di antara sesama anggota Jemaah haji. Anggota Media Center Haji (MCH) yang tahu berita tersebut tak berani mengangkatnya, karena selain dari sisi substansi isi berita tak dapat dipertanggungjawabkan, juga tak jelas narasumbernya. Fakta bahwa korban luka di kepala memang ada terlihat. Tapi, itu tak dapat disimpulkan sebagai luka dan lantas meninggal karena dipatuk gagak hitam di bagian kepalanya.

Perangi Setan

Cerita ketika di Jamarat saat Jemaah melakukan jumroh pun banyak beredar. Ada Jemaah mempersonifikasikan bahwa tempat melontar di tugu ula, usta dan akobah sama artinya Jemaah melempari setan atau pun hantu yang berdiam di situ. Karena itu, tidak sedikit ada Jemaah emosional dan membawa batu besar-bukan kerikil sebagaimana diajarkan dalam pelajaran manasik haji seperti ketika Rasulullah berhaji- melempar ke arah ketiga tugu tadi. Tidak sedikit Jemaah melempar dengan batu besar, bahkan dengan botol kemasan secara emosional dengan harapan setan akan sirna atau kabur.

Karena tuntutan dalam melaksanakan jumroh tidak demikian, lantas ada pihak yang mempelesetkan bahwa orang yang melaksanakan jumroh seperti itu seperti setan melempar setan. Dengan kata lain, sesama setan saling melempar. Akibatnya, tidak sedikit pula orang yang melaksanakan jumroh terkena lemparan batu dari rekannya karena tidak fokus cara melontar dengan baik.

Akhir musim haji tahun ini jumlah Jemaah haji yang meninggal tergolong sedikit dibanding pada tahun-tahun sebelumnya. Tapi, ada anggota legislatif-yang tak mau disebut jatidirinya - minta perhatian pemerintah bahwa jumlah orang yang mengalami stres atau sakit jiwa saat melaksanakan ibadah haji harus bisa dikurangi. Data Jemaah yang mengalami sakit jiwa memang cenderung meningkat, tapi sayangnya Kementerian Kesehatan tak mau menyebut jumlahnya.

Menurut anggota legislatif itu, untuk mengurangi jumlah orang yang mengalami sakit jiwa bisa dilakukan jauh hari sebelum bertolak ke Tanah Suci Mekkah. Pusat kesehatan masyarakat (puskesmas) harus dapat diberdayakan secara maksimal. Pemeriksaan harus dilaksanakan secara rutin.

Menanggapi prihal orang terkena penyakit jiwa dan stres saat melaksanakan ibadah haji itu, Kakanwil Kementerian Agama Sumatera Utara (Kemenag Sumut) Abdul Rahim, mengakui bawah hal itu bukan perkara mudah untuk diatasi.

Ibadah haji merupakan puncak ibadah tertinggi dan sekaligus sebagai ungkapan peneguhan tawhid seseorang muslim kepada Allah SAW. Ibadah itu tak bisa dimaknai sekedar ritual kekuatan fisik, sehat jasmani dan rohani dan memiliki kemampuan finansial. Atau dengan sebutan lain cukup syarat terpenuhinya istitoah (berkemampuan dalam arti luas) tetapi juga ilmu dan jiwa didedikasikan untuk ibadah dan mengharapkan keridhoan Allah.

Jadi, ibadah haji memang unik. Dan dari ibadah itu pula lahir bisnis besar, penerbangan laris, biro perjalanan hidup, perusahaan katering maju pesat dan sejumlah hotel dengan fasilitas pendukung untuk ibadah dengan segala bentuk bisnis ikutan lainnya tumbuh pesat. Kerajaan Saudi pun tidak henti-hentinya sibuk berbenah dan memberi fasilitas agar Jemaah dari seluruh dunia memperoleh kenyamanan dalam beribadah. Salah satunya memperluas kompleks masjidil haram.

Terkait dengan cerita orang sakit pergi haji dan kemudian selama di tanah suci fisiknya sehat bugar, orang bugar malah berhaji harus ikut safari wukuf dan cerita lainnya, menurut Kakanwil Sumut, Abdul Rahim, sulit dapat dijelaskan dengan nalar.

Di Tanah Air saja ada cerita, ketika bulan purnama tiba, khususnya saat hari besar Islam, kadang bisa dijumpai seseorang berperilaku di luar batas normal. Penyakit gilanya kumat dan cenderung merusak benda-benada di sekitarnya. Tapi saat purnama hilang, yang bersangkutan kembali normal.

Cerita petugas kesehatan mendapati Jemaah sakit jiwa ketika sampai di Tanah Suci bukan hal baru. Terlebih cara penangannya pun bukan dengan pendekatan medis, seperti diberi obat penenang. Tapi justru cukup jemaahnya diperiksa seluruh badannya dan barang bawaannya diteliti. Setelah ada benda asing menyerupai jimat atau pusaka, benda tersebut diambil dan disimpan petugas. Selanjutnya benda yang dianggap keramat oleh pemiliknya itu dapat diambil ketika hendak kembali ke Tanah Air.

Anehnya bin ajaib, setelah benda tersebut dipisahkan dari sang pemilik, Jemaah bersangkutan bisa melaksanakan ritual dengan baik. Dia sehat seperti orang kebanyakan yang normal. Peristiwa itu bukan cerita bohong, tapi faktanya demikian. Apakah itu mitos, realitas, walluhu a`lam bishoaf. Hanya Allah yang tahu semua itu.
(E001/A011)